Resume Pengembangan Bahan Ajar
Dahulu, saat kita menjadi siswa, satu hal yang selalu kita persiapkan
pertama kali ialah buku pelajaran. Buku pelajaran ini merupakan barang wajib
yang harus dimiliki siswa, karena buku ini akan berguna dalam kegiatan
pembelajaran siswa. Buku pelajaran ada sebagai sumber atau panduan untuk siswa
dalam mempelajari subjek ilmu pengetahuan yang di ampu, seperti matematika,
bahasa inggris, biologi dan lain-lainnya. Dalam istilah pendidikan, sumber atau
panduan pembelajaran ini disebut dengan bahan ajar. Biasanya, di sekolah
bahan ajar yang sering digunakan siswa ialah buku teks pelajaran. Namun, saat
ini, semakin majunya zaman, ada berbagai variasi bahan ajar yang bisa digunakan
siswa seperti video, audio, LKS (lembar kerja siswa), koran, dan masih banyak
lagi. Mungkin bagi anda terdengar sederhana, namun, bahan ajar ini bukan
sekadar sumber yang berisi ilmu-ilmu saja, karena dalam prosesnya bahan ajar
harus di desain sedemikian rupa dengan menyesuaikan teori-teori pengajaran
dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa serta kapasitas materi pembelajaran
secara komplit. Dengan begitu, bahan ajar ini akan menjadi bahan ajar yang baik
dan efektif yang dapat digunakan dalam proses kegiatan pembelajaran.
Untuk mendesain bahan ajar, pengembang bahan ajar harus mempertimbangkan
teori-teori pengajaran serta pembelajaran. Tentu saja, hal ini tidaklah mudah,
karena dalam proses pembuatannya seorang pengembang bahan ajar harus melakukan
analisis-analisis yang akurat menyesuaikan dengan kebutuhan siswa. Seorang
pengembang bahan ajar pun harus memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni dalam
membentuk bahan ajar yang baik dan efektif. Maka dari itu, seorang pengembang
bahan ajar haruslah seseorang yang bekerja serta menguasai materi pelajaran
yang diampunya.
Kembali membahas teori pengajaran dan pembelajaran, dalam teori
pengajaran, bahan ajar ini haruslah dibentuk menyesuaikan pengajaran yang
dibutuhkan oleh siswa, seperti yang dirincikan oleh Tomlinson tentang teori
pengajaran, khususnya tentang dalam pembelajaran bahasa, sebagai berikut: Dalam
fungsinya, bahan ajar haruslah membuat seorang guru bisa dengan baik mengajar
dan menikmati perannya sebagai guru. Karena guru berperan mengajar siswa, bahan
ajar itu juga harus dibuat dengan baik dan mampu mempertahankan energi guru
sebagai pembentuk generasi masa depan. Seorang siswa akan berhasil jika bahan
ajar yang digunakannya memberikan pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan.
Karena setiap siswa itu unik, maka bahan ajar itu pun harus lah menyesuaikan
dengan kepribadian, motivasi, sikap, bakat, pengalaman, ketertarikan,
kebutuhan, keinginan serta gaya belajar. Siswa hanya mempelajari apa yang
mereka butuhkan dan inginkan, maka, bahan ajar pun harus memenuhi hal itu.
Bahan ajar juga harus memenuhi kebutuhan siswa akan praktik bahasa yang mereka
inginkan, maka dari itu bahan ajar ini haruslah bisa menumbuhkan kenyamanan dan
kesenangan siswa melalui aktivitas pembelajaran yang terinci dalam bahan ajar.
Bahan ajar yang dibutuhkan siswa ialah yang bisa memberikan contoh pengalaman
di dunia nyata sehingga mereka bisa menyampaikan pandangan, opini dan ketertarikan
mereka. Agar bahan ajar ini tidak kehilangan kredibilitasnya, bahan ajar ini
harus lah bernilai bagi guru sehingga siswa tidak ragu dengan ilmu yang
didapatnya. Meskipun ada berbagai perbedaan budaya, bahan ajar haruslah
menyesuaikan dan menyatukan dengan membentuk pembelajaran dan pengajaran yang
baik.
Berdasarkan teori pembelajaran, terkhusu pembelajaran bahasa, Tomlinson
(2003) merincikan bahwa bahan ajar haruslah berisi penjelasan yang dalam demi
pembelajajaran yang efektif dan dapat dipakai terus menerus. Bahan ajar dalam
teori pembelajarannya haruslah membawa pengaruh yang memberikan pembelajaran
yang efektif dan tahan lama, seperti dengan membawakan sikap positif melalui
pengalaman pembelajaran dan mengembangkan harga diri agar membentuk pembelajaran
yang berhasil. Teori pembelajaran dalam bahan ajar pun harus menghubungkan
psikis dalam proses pembelajaran. Dengan begitu, siswa dapat dengan mudah
belajar yang memberikan pengalaman pembelajaran yang bernilai di masa depan.
Teori pembelajaran ini pun harus dikemas dengan pembelajaran yang bersifat
pengalaman yang esensial dan mudah dipahami. Pendekatan informal melalui
pembelajaran biasanya lebih mudah dipahami oleh siswa daripada yang formal,
maka dari itu, teori pembelajaran dalam bahan ajar haruslah memenuhi syarat
tersebut. Teori-teori pembelajaran ini pun juga haruslah sesuai dengan apa yang
siswa inginkan dan butuhkan, sehingga mereka dapat termotivasi dan belajar
dengan baik.
Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan, menurut Tomlinson, bahan
ajar yang baik dan efektif haruslah memberi kenyamanan dan kesenangan dalam
proses pembelajaran bagi guru maupun siswa. Bahan ajar ini pun harus sesuai
dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan siswa dengan memberikan pembelajaran
yang terealisasikan secara aktual dan nyata dalam kehidupan. Dengan begitu,
diharapkan, bahan ajar ini pun mampu memotivasi siswa serta guru demi proses
pembelajaran yang baik dan maksimal.
Setelah pembahasan tentang teori-teori tentang pengajaran dan
pembelajaran dalam sebuah bahan ajar, Adapun prinsip-prinsip yang harus
dimiliki sebuah bahan ajar. Prinsip-prinsip ini didasarkan pada teori
pengajaran dan pembelajaran serta hasil dari penelitian Second language
acquisition dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa inggris. Prinsip-prinsip
ini disebut dengan prinsip Howard & Major, Prinsip Nunan, dan Prinsip
Tomlinson.
Menurut Howard & Major, ada 9 prinsip dalam mengembangkan bahan ajar
yang baik dan efektif dalam pengajaran Bahasa Inggris. Pertama, bahan ajar yang
sesuai dengan konteks. Maksudnya, bahan ajar tersebut harus sesuai dengan
konteks kurikulum, silabus dan pola bahan ajar yang ingin dibuat. Kedua, Bahan
ajar yang menstimulasi interaksi dan mampu mengembangkan bahasa. Maksudnya,
bahan ajar tersebut haruslah menyajikan situasi yang dibutuhkan siswa untuk
berinterkasi dengan sikap yang merefleksikan jenis interaksi yang mereka hadapi
di luar kelas, seperti dalam pengembangan skill speaking, dalam kegiatannya
melalui percakapan, haruslah di realisasikan dalam dunia nyata, dengan begitu
siswa dan memahami dengan mudah. Ketiga, bahan ajar harus mendorong siswa
mengembangkan skill dan strateginya. Bahan ajar haruslah mengajarkan siswa
bagaimana cara belajar. Bahan ajar tersebut membantu mereka dalam memanfaatkan
kesempatan dari pembelajaran bahasa di luar kelas. Jadi, bahan ajar haruslah
menyajikan kesempatan yang bernilai untuk evaluasi diri dengan memberikan
aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan oleh siswa yang mendorong mereka untuk
menilai pembelajaran dan perkembangan bahasa mereka, seperti dalam pengembangan
skill listening, dalam kegiatannya mendengarkan native speaker, diharapkan
siswa mampu belajar dan mengenali cara berbicara seorang native speaker, dengan
begitu mereka bisa merefleksikan nya pada perkembangan skill mereka sendiri
agar bisa berbicara seperti native speaker pada umumnya. Keempat, bahan ajar
harus membuat siswa fokus pada bentuk dan fungsinya. Maksudnya bahan ajar
tersebut harus mendorong siswa dalam menganalisa bahasa di sekitar mereka, dan
membentuk serta menguji hipotesis mereka tentang bagaimana bahasa bekerja,
seperti dalam pengembangan skill membaca, siswa memepalajari struktur teks,
fitur bahasa dan fungsi teksnya. Dengan menguasai skill ini, diharapkan siswa
mampu menganalisa informasi dari teks berbahasa inggris dengan baik dan benar.
Kelima, bahan ajar harus menawarkan kesempatan penggunaan bahasa yang
terintegrasi. Maksudnya, bahan ajar hauslah memberikan siswa kesempatan untuk
mengintergrasikan semua skill bahasa, seperti dengan mampu membaca maka bisa
menulis, mampu mendengarkan maka bisa berbicara. Keenam, bahan ajar harus
otentik. Maksudnya, bahan ajar haruslah menyediakan teks yang tidak di produksi
secara spesifik untuk tujuan pembelajaran. Teks yang disajikan haruslah yang
dibutuhkan siswa untuk mampu merefleksikan bahasa dan tingkah laku di luar
kelas, seperti, menggunakan koran dan majalah dari negara native speaker.
Dengan begitu, diharapkan siswa mampu mengenal dan merefleksikan budaya bahasa
dan tingkah laku native speaker. Ketujuh, bahan ajar harus menghubungkan
pengembangan sebuah skill, pemahamannya dan pokok bahasanya. Maksudnya, bahan
ajar tersebut haruslah memiliki tujuan yang jelas sehingga aktivitas yang
disajikan dalam bahan ajar berhubungan untuk mencapai tujuan spesifik pembelajaran,
seperti dalam pengembangan skill menulis teks report, diharapkan siswa mampu
memproduksi teks report, memahami teks report dan pokok bahasanya, yang
nantinya saat mereka bekerja, mereka mampu menulis teks report berbahasa
inggris yang baik dan benar. Kedelapan, bahan ajar harus menarik. Maksudnya
bahan ajar tersebut harus menarik dari segi tampilan dan maknanya, seperti dari
bobot teksnya, ukuran huruf, dan keteraturan teks. Kesembilan, bahan ajar harus
memiliki instruksi yang jelas. Instruksi dalam bahan ajar haruslah ditulis
secara ringkas dan efektif, sehingga siswa dapat memahami instruksinya dengan
baik.
Selanjutnya, menurut Nunan, ada enam prinsip dalam mengmbangkan bahan
ajar yang baik dan efektif yaitu, bahan ajar yang sesuai dengan silabus dan kurikulum,
bahan ajar yang otentik dari segi teks dan latihannya, bahan ajar yang
menstimulasi interaksi, bahan ajar yang membuat siswa fokus pada aspek formal
dalam bahasa, bahan ajar yang mendorong siswa mengembangkan skill pembelajaran
dan skill dipembelajarana, dan bahan ajar yang mendorong siswa untuk
mengaplikasikan skill di luar kelas.
Menurut Tomlinson ada 16 prinsip dalam mengembangkan bahan ajar.
Pertama, bahan ajar sebaiknya memiliki dampak memengaruhi. Dampak atau pengaruh
dapat diperoleh ketika bahan ajar mampu membuat siswa memperhatikan, seperti
rasa penasaran ketertarikan dan perhatian. Bahan ajar mampu memengaruhi melalui
dari sesuatu yang baru, beragam, tampilan serta konten yang menarik. Kedua,
bahan ajar sebaiknya membantu siswa untuk merasa bebas, seperti dengan
memberikan tempat yang berwarna putih agar tidak terlihat berantakan, melalui
penggunaan teks dan ilustrasi yang berhubungan dengan budaya, melalui
pendekatan suportif yang tidak selalu menguji dan melalui penggunaan
penyampaian bahasa pribadi; informal, aktif, konkret, dan inkulisif. Ketiga,
bahan ajar sebaiknya membantu siswa untuk mengembangkan rasa percaya diri
seperti dengan mendorong mereka keluar keahlian mereka dengan memberikan tugas
sebagai tantangan namun mampu diperoleh. Misal, anak SD akan lebih percaya diri
dari membuat suatu cerita, menulis puisi, dan membuat penemuan gramatikal.
Keempat, bahan ajar berisi apa yang akan dipelajari diperoleh oleh siswa se
relevan dan se berguna mungkin. Kelima, bahan ajar sebaiknya memfasilitasi
pengembangan diri siswa, seperti dengan memberikan mereka tanggung jawab untuk
membuat pilihan, dan melalui pemberian dorongan untuk melakukan penemuan
tentang bahasa untuk diri mereka sendiri. Keenam, bahan ajar sebaiknya membuat
siswa siap untuk diajar berkenaan dengan ilmu bahasa, pengembangan kesiapan dan
juga psikologi kesiapan. Ketujuh,bahan ajar sebaiknya menunjukkan kepada siswa
penggunaan bahasa secara otentik, seperti nasihat, saran, daninstruksi untuk
aktivitas pembelajaran secara teks tertulis maupun lisan sehingga mudah
dipahami. Kedelapan, bahan ajar sebaiknya membuat perhatian siswa terhadap
fitur bahasa, karena penting sekali untuk menyadari ada pemisah antara fitur
tertentu antarbahasa. Kesembilan bahan ajar harus menyajikan kesempatan kepada
siswa untuk menggunakan bahasa inggris untuk tujuan komunikatif, dengan harapan
siswa mampu berpikir otomatis dengan berbahasa inggris, mengecek keefektifan
dari hipotesis dan mengembangkan kompetensi berstrategi. kesepuluh, bahan ajar
sebaiknya memperhitungkan bahwasanya instruksi yang memiliki efek positive
biasanya tertunda. Kesebelas, bahan ajar sebaiknya memperhitungkan siswa
memiliki gaya pembelajaran yang berbeda dan selanjutnya memastikan bahwa bahan
ajar memenuhi siswa yang dominan secara visual, auditori, kinestetik, studial,
pengalaman, analisis, globa, dependen dan independen. Keduabelas, bahan ajar
sebaiknya memperhitungkan bahwa siswa memiliki sikap yang berbeda sehingga
bahan ajar sebaiknya menyajikan variasi dan pilihan; teks, kegiatan,
extrakegiatan, diskusi. Ketigabelas, bahan ajar sebaiknya memperbolehkan jeda
sesat saat awal instruksi, seperti pendekatan TPR, memulai dengan pemahaman
mendengar, mengizinkan siswa merespon terhadap pertanyaan bahasa inggris dengan
bahasa Indonesia. keempatbelas, bahan ajar sebaiknya memaksimalnya potensi
pembelajaran dengan mendorong intelejensi, estetika, dan pengaruh emosional
yang menstimulari otak kiri dan kanan, seperti melalui variasi aktivitas serius
yang membutuhkan jangkauan tipe-tipe proses yang berbeda; dialog, menari,
menyanyi, menulis cerita. Kelimabelas, bahan ajar sebaiknya tidak terlalu
bergantung terlalu banyak pada praktik yang dikontro, karena praktik yang
seperti ini tidak memiliki efek jangka panjang dalam akurasi terhadap struktur
yang baru yang ditampilkan dan sedikit efek dari kelancaran berbahasa.
keenambelas, bahan ajar sebaiknya menyediakan kesempatan untuk memberikan
tanggapan baik pada keefektifan siswa dalam memperoleh tujuan komunikatif dari
pada tanggapan untuk ke-akurasi-an.
Maka dari itu, apa saja kualitas yang harus diperhatikan dari sebuah
bahan ajar? Pertama, konten. Konten dari bahan ajar haruslah memiliki tujuan
dan target yang segaris lurus dengan kurikulum. Kontennya sebaiknya cukup untuk
menyampaikan pesan dari target pembelajaran yang bersumber dari kurikulum.
Konten yang digunakan adalah yang terkini sehingga informasinya akurat dan
relevan. Konsep pada konten adalah benar dan tepat. ide nya berkoherensi.
Konten juga seimbang antara pendalaman dan keluasan materi. Pada konten, level
kesulitannya seimbang dan juga mempertimbangkan pengetahuan dan pengalaman
siswa sebelumnya. Kontennya berisi berbagai perspektif yang menyeimbangkan
pandangan dan isu. Konten pun tidak boleh bias. Untuk mendorong dan memfasilitasi
siswa untuk banyak membaca, konten juga berisikan rincian teks pilihan untuk
pembacaan yang lebih extensive. Kedua, pembelajaran dan pengajaran, seperti
mencakup skill umum, keseimbangan cakupan skill kognitif pada semua level,
nilai positif, susunan konten yang cocok, kegiatan pembelajaran yang esensial,
kegiatan pembelajaran yang secara aktif terintergrasi, kegiatan pembelajaran
yang menarik, instruksi kegiatan pembelajaran yang jelas, kegiatan pembelajaran
yang berguna; tugas dan Latihan, serta saran untuk refleksi diri. Ketiga
struktur dan organisasi, seperti, susunan konten yang logis, struktur konten
yang jelas (daftar isi, judul bab, bagan), dan ikhtisar target pembelajaran.
Keempat bahasa, seperti teks yang berkualitas, teks yang berkoherensi, bahasa
motivasi dan pemahaman yang menarik dan familiar, bahasa yang akurat dan tepat,
dan sajian pemahaman seperti kosakata. Kelima susunan atau tata letak, seperti,
tata letak teks yang logis dan konsisten, ilustrasi yang cocok dan efektif,
penggunaan kertas yang ringan, buku teks yang bisa dipakai kembali, serta tipe
rupa huruf. Keenam penggunaan fitur pedagogis online, seperti aktivitas
interaktif dan konten multimedia (gambar, video klip) yang cocok dan efektif,
pengurutan konten multimedia, inti topik melalui buku teks online dan link
laman yang menghubungkan. Ketujuh syarat teknis dan fungsional, seperti buku
teks cocok dengan alat-alat komputer, ketersediaan fitur penghubung laman
pencari, tata letak konten yang konsisten, kamus gratis online dan alat-alau
untuk memfasilitasi pembelajaran, konten yang cocok dan bisa di download dan
fitur online lainnya.
Comments
Post a Comment